Ketika kami mencari nama untuk aplikasi ini, kami tidak mencari kata yang terdengar teknologi. Kami mencari kata yang terasa manusiawi — sesuatu yang sudah dikenal, meski belum pernah bertemu sebelumnya.
Kami menemukan bahwa kata paling universal di dunia justru bukan kata yang bermakna. "Hah" — bunyi kebingungan — dimengerti di mana-mana, tapi tidak membawa isi. Kami ingin lebih dari itu.
Lalu kami menemukan "Kahve" — kata untuk kopi dalam bahasa Turki. Sebuah kata yang perjalanannya melintasi benua.
Dari biji kopi di Ethiopia, ke cangkir pertama di Yaman, ke kedai kopi Ottoman di Istanbul — kata "qahwa" mengalir mengikuti jalur perdagangan, berubah sedikit di setiap persinggahan:
Kata ini bukan hanya tentang minuman. Ia adalah bukti bahwa manusia, sejak berabad-abad lalu, selalu menemukan cara untuk saling berbagi — melampaui batas bahasa, melampaui batas negara.
Kahve lahir dari satu keyakinan sederhana: bahasa seharusnya tidak pernah menjadi tembok. Setiap orang berhak memahami dan dipahami — apapun bahasa yang mereka bawa.
"Setiap kata yang terucap layak untuk didengar. Setiap pendengar layak untuk memahami."